Bahaya! HP dan anak-anak

gambar-hp

Hand Phone, benda yang satu ini sangat diminati oleh banyak orang bahkan sebagian besar masyarakat di indonesia sudah memiliki HP. Semakin menggilanya HP ada yang sampai memiliki sampai d HP sekaligus kakak saya saja sudah mempunyai 4 HP bahkan saya sendiri sampai 3 HP, isn’t that crazy!.

 

Bagaimana dengan anak-anak mulai dari SD sampai TK sudah ada yang bawa HP namun akhir-akhir ini ada suatu penelitian yang diadakan di negara barat bahwa radiasi yang dihasilkan oleh HP bisa mengganggu tumbuh kembang anak dan tidak hanya kesehatan fisik yang terganggu tetapi juga mental dan emosi anak, setekah membaca koran Jawa Pos pagi ini ternyata HP dapat mengganggu kemandirian anak. Berikut artikel tersebut saya kutip dalam tulisan ini:

HP Ganggu Kemandirian Anak
Pemakaian handphone (HP) kian luas dari hari ke hari. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun kian banyak memakai sarana komunikasi itu. Padahal, orang tua semestinya berpikir panjang sebelum memutuskan memberikan HP kepada anaknya. Apalagi bila sang buah hati masih duduk di bangku SD.

Sebab, pemakaian HP sejak dini diketahui memiliki risiko kesehatan. ”Ada penelitian yang membenarkan hal tersebut. Meski, belum ada kejelasan frekuensi dan kurun waktu pemakaian berapa lama serta efek negatif HP itu bisa timbul,” kata dr Monique Noorvaily SpA, ahli penyakit anak RSU Haji.

Salah satu dampak yang dikhawatirkan muncul, kata dia, adalah kanker otak. Itu berkaitan dengan efek radiasi dalam pemakaian HP. Meski, efek radiasi tersebut bukan pencetus utama kanker otak. ”Hanya trigger. Sebelumnya, dalam tubuh pasien sudah ada bakat,” jelas Monique.

Dampak lain adalah terhadap kecerdasan dan kemandirian anak. Dengan dibekali HP, anak jadi kurang mandiri. Ada kesulitan sedikit saja langsung menelepon. Atau, jemputan telat lima menit saja, langsung menelepon.

Parahnya, kata alumnus FK Unair tersebut, teknologi itu juga rawan digunakan untuk hal-hal negatif. Misalnya, bagi-bagi jawaban ujian via pesan singkat (SMS). Akibatnya, anak kurang keras belajar. ”Kecerdasan anak tak akan berkembang optimal bila mereka terlalu mengandalkan teknologi tersebut,” tegasnya.

Yang juga dikhawatirkan adalah munculnya sikap sombong atau sok-sokan dengan teman. Monique menuturkan, anak masih suka pamer barang yang dimilikinya. Tak terkecuali HP. Apalagi bila HP-nya keluaran terbaru dengan fitur canggih. ”Teman bisa iri atau minder karena hal tersebut,” katanya.

Padahal, bila dibiarkan, minder bisa berlanjut menjadi tak percaya diri. Dokter yang juga mengambil spesialis anak di FK Unair-RSU dr Soetomo itu mengungkapkan, rasa tak percaya diri bisa memengaruhi hubungan sosial anak. ”Dengan sendirinya, proses tumbuh kembang anak terganggu pula,” terangnya.

Karena itu, Monique menyarankan agar anak SD tak dibekali HP. Toh, segala kebutuhannya sudah terpenuhi di sekolah. Antar-jemput biasanya juga jarang terlambat. ”Di sekolah juga ada telepon umum. Jika butuh, anak bisa menelepon orang tuanya dari telepon umum tersebut,” paparnya.

Dalam kondisi tertentu, boleh saja anak dibekali HP. Misalnya, saat kondisi anak sedang kurang sehat. Dengan HP, orang tua bisa sewaktu-waktu mengontrol anaknya. ”Atau, bila orang tua berposisi di luar kota atau luar negeri,” ujarnya.

Kalau anak merengek? Menurut Monique, orang tua bisa mengajak anak membicarakan manfaat HP tersebut. ”Kalau hanya untuk sombong-sombongan, ya sebaiknya berpikir ulang,” tuturnya.