Ukur Kepala Bayi Setiap Bulan

Hal ini memamng cukup diremehkan oleh para orang tua, karena ini memang tampaknya sepele. Dimana-mana para orangtua hanya mengukur berat badan bayi dan tinggi bayi tetapi tidak mengukur kepala bayi, berikut saya dapatkan artikel tentang pentingnya mengukur kepala yang saya kutip dari Jawa Pos.

 

 

Wajib Ukur Kepala Bayi Setiap Bulan
KEPALA anak sering luput dari perhatian orang tua. Padahal, penambahan lingkar kepala si kecil tak boleh berlebihan.

Memang, perkembangan kepala bayi baru lahir hingga berumur dua tahun tergolong pesat. Namun, tetap ada batasnya. ”Sebaiknya, perkembangan kepala bayi saat usia kurang dari dua tahun tak lebih dari 1,5 cm per bulan,” ujar Prof dr Darto Saharso SpA(K), pakar persarafan anak dari RSU dr Soetomo Surabaya. Bila perkembangan kepala melebihi angka tersebut, kemungkinan ada proses lain di otak. Salah satunya, pertumbuhan tumor.

Tanda yang muncul dibedakan berdasar usia anak. Bila usia si kecil kurang dari dua tahun, ubun-ubun bayi masih terbuka. Tampak penonjolan di kepala si kecil. Anak jadi sering rewel dan jika menangis keras sekali. ”Anak juga sering muntah-muntah,” tutur lulusan FK Unair itu.

Sedangkan anak lebih dari dua tahun, ubun-ubunnya sudah menutup. Anak akan sering sakit kepala hebat. ”Pagi anak akan sering muntah,” imbuh Darto. Sebab, ketika malam terjadi kekurangan oksigen di otak. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tubuh semakin banyak mengalirkan darah ke otak. Akibatnya, terjadi tekanan di otak. ”Tekanan pun dobel, dari tumor dan aliran darah,” jelasnya. Namun, mungkin juga kondisi itu terjadi di saat siang ataupun malam.

Bukan hanya itu. Lokasi tumor otak akan memengaruhi kemampuan anak. Jika letaknya di otak bagian depan, anak akan mengalami gangguan kognitif. Jika letaknya di belakang bagian bawah kepala, akan memengaruhi keseimbangan. Kalau lokasi tumor di samping, tingkah laku anak terpengaruh. ”Si mungil jadi agresif atau sebaliknya menjadi sangat pendiam,” terang Darto.

Penanganannya, jika tumor tidak menyebar dan mudah dijangkau, akan dilakukan operasi pengambilan tumor. Tetapi, jika tumor menyebar, banyak, dan sulit dijangkau, tidak akan dilakukan operasi. Langkah ini justru berisiko mengancam keselamatan anak. ”Pada kondisi begini, langkah terapinya radiasi atau kemoterapi,” tutur Darto. (war/nda)
Source: Jawa Pos