Tag Archive | bayi

Ini Mitos & Fakta Seputar ASI yang Perlu Anda Tahu

Bismillah..

Picture 2

Jakarta, Sudah diketahui bersama air susu ibu (ASI) adalah makanan yang paling sehat untuk bayi. Namun karena beberapa alasan ada ibu yang enggan memberikan ASI kepada bayinya. Terkait ASI memang ada mitos dan faktanya yang perlu Anda ketahui.

dr. Utami Roesli SpA SpA, IBCLC, FABM , IBCLC, FABM dalam talkshow ‘Ibuku, InspirASIku- a Tribute to #NenekASI’ yang digelar oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dan Save The Children Indonesia di FX Lifestyle X’nter Mall, Jl Sudirman, Jakarta, dan ditulis pada Selasa (25/12/2012) memaparkan mitos dan fakta seputar ASI, sebagai berikut:

Mitos: ASI pertama- colostrum, adalah susu basi yang tidak baik untuk bayi
Fakta: Colostrum mengandung lebih banyak zat kekebalan tubuh dan zat penting lainnya untuk ‘mematang’-kan usus.

“Jadi jangan dibuang colostrum ini, meskipun memang keluarnya hanya sedikit,” kata dr Utami.

Mitos: Payudara berukuran kecil tidak dapat menghasilkan ASI banyak
Fakta: Besar kecilnya payudara ditentukan banyak sedikit lemak, bukan jumlah kelenjar susu.

Mitos: ASI belum keluar pada hari 1 & 2 atau sedikit, perlu diberi formula /air gula supaya tidak kelaparan
Fakta: meski tidak terasa keluar, colostrum akan keluar sedikit cukup untuk kebutuhan bayi
2 x 24 jam tak diperlukan asupan makanan sebab dibekali dari kandungan ibu. Colostrum 1 – 2 hari pertama lebih untuk usus

Mitos: Formula yang mahal dapat menyamai ASI
Fakta: Formula semahal apapun tak dapat menyamai ASI sebab ASI cairan hidup yang selalu
berubah setiap saat sedang formula cairan mati yang tak pernah berubah

Mitos: Formula yang mengandung DHA dan AA akan membuat anak formula lebih pandai
Fakta: Lemak ASI sebagian besar adalah PUFA (lemak Ikatan Panjang) bakal DHA dan AA. Lemak
susu sapi lemak ikatan pendek dan medium hingga harus ditambah DHA dan AA, ASI cairan hidup
mengandung penyerap lemak selain zat lemak sedang formula cairan mati tergantung penyerapan di usus bayi yang masih sedikit

Mitos: Ibu yang minum banyak susu akan menghasilkan ASI banyak
Fakta: Banyak sedikit produksi ASI ditentukan banyak sedikitnya ASI dikeluarkan. Makin
banyak dikeluarkan makin banyak diproduksi, tidak dipengaruhi oleh makanan atau minuman ibu

Mitos: Ibu sakit harus berhenti menyusui karena bisa menularkan pada bayinya
Fakta: Ibu sakit tetap menyusui sebab ketika sakit, tubuh ibu membuat zat kekebalan
terhadap penyakitnya. Zat kekebalan ini disalurkan pada bayinya melalui ASI sehingga bayi tidak sakit.

Mitos: Sebelum menyusui puting susu dibersihkan dengan kapas air panas
Fakta: Puting susu dibersihkan dengan ASI yang diperah akan lebih baik karena mengandung zat kekebalan thd penyakit. Sedangkan air panas dikapas bisa membawa bakteri yang tidak ada zat kekebalan nya di ASI ibu.

Mitos: Bayimenangis berartiASInya kurang
Fakta: Menangis belum tentu bayinya lapar. Sebaliknya bayi yang menangis karena lapar, bayi ini sudah sangat lapar dan biasanya dia akan menolak menyusui.

Mitos: Menyusui menyebabkan payudara kendur
Fakta: Payudara kendur disebabkan kehamilan dan usia yang bertambah.

Mitos: Puting terbenam tak dapat menyusui
Fakta: Menyusu pada payudara, bukan pada puting susu.

Mitos: Memberi ASI mengganggu hubungan suami istri
Fakta: Lebih cepat kembali ke hubungan sebelum melahirkan.

(vit/vit)

sumber: detik.com

Kisah Nyata Dampak Negatif dari Vaksin

Bismillah..

Miris baca kisah dibawah ini, jadi sedih sekali bacanya. Saya tertarik untuk memposting kisah dibawah ini karena kita semua harus mengetahui efek samping dari vaksin, kisah ini saya dapatkan dari blog kiat sehat 2010, blog ini adalah blog favorit saya karena saya jadi banyak tahu tentang informasi-informasi dunia medis. Okeh.. langsung saja di baca kisah Rudiyanto & Siti Afifah yang membuat kita ngelus dada dan berdoa jangan sampe tragedi ini terjadi pada kita.

Sumber : Rudi Avee Cayank di grup FB “Tanya ASI- HZ Lactation Center”

KIPI.. Satu nyawa bayi bukanlah mainan.. Jika memang vaksin aman, maka seharusnya tidak ada satupun nyawa yang harus dikorbankan. Cukup pantaskah alasan mengorbankan satu demi lebih banyak anak lagi? Jika bersandar pada teori “herd immunity / kekebalan komunitas”

Assalamu’alaikum.wr.wb
Sebelumnya perkenalkan nama saya Siti Afifah (afi), istri dari Rudiyanto, Jogyakarta. Kami menikah tgl 04 mei 08.Alhamdulilah tanggal 28 maret putri pertama kami lahir dengan BB 3,6 dan PB 50cm. Kami beri nama ASHILA NAILI RACHMACH. Alhamdulilah saya berikan ASI.
Umur berapa, saya lupa, pernah saya periksakan ke bidan kenapa nafasnya grok2. Bidan bilang “tidak apa2, hanya flu biasa.” Umur 2,5bln kalau tidak salah mendapatkan vaksinasi DPT/POLIO. Pada saat itu, perawatnya bicara sendiri “panas ga ya.. panas..eeh ga panas deng..”

Karena akupun kurang paham pada waktu itu, kami pulang tanpa obat penurun panas. Ketika di rumah tiba-tiba panas,aku pun bingung. Lalu kami membawanya ke seorang dokter anak di salah satu RSKA, Jogyakarta. Biaya pemeriksaan yang kami bayarkan sebesar Rp 500.000,oo dan dokter menganjurkan agar anak kami dilakukan terapi sinar dua kali. Namun karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan serta suami berada di Jakarta, maka kami mengurungkan niat untuk terapi.

Tiba-tiba setelah selesai menyusu, anak saya muntah-muntah sangat banyak. Seingat saya hari itu adalah hari Jum’at, wajahnya membiru dan melemas. Akhirnya kami segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
Lalu dirujuk ke PKU JOGYA jam 15.00. Hasil rontgen mengatakan bahwa Syila menderita pembengkakan jantung dan bronk .. ( maaf saya lupa nama penyakitnya). Pukul21.00 wb, akhirnya kondisi anak saya semakin kritis & meninggal dunia.

Tgl 30 Agustus 2010, Alhamdulilah putra kedua kami lahir pada pukul18.30 WIB dengan BB 3,5 Kg dan PB 49 cm. Kami beri nama MUHAMMAD RIDWAN ABDUSSALAM.
Pagi harinya dokter mengatakan bahwa anak kami harus dirujuk ke SARDJITO, dengan alasan perut kembung dan belum BAB.

Bisa dibayangkan betapa hancur hati saya saat itu. Saya pun meninggalkan jaminan STNK motor agar bisa keluar dari klinik itu. Sesampainya di RSUD Sardjito, anak saya langsung masuk ruang NICU. Dokter anak yang merawat mengatakan bahwa anak saya memiliki lubang anus, namun terjadi penyumbatan di usus dan harus segera operasi. Akhirnya ridwan dioperasi untuk dibuat lubang pada perut agar bisa BAB

Saat itu, aku pikir bisa pulang setelah 1minggu. Tapi apa yangg terjadi.. Jahitan operasi di perut jebol, saya tak kuasa menahan tangis pilu.

Hari ke 10, operasi ulang.
Hari ke 15, jebol lagi.
Katanya albumin rendah,kekebalan tubuh anak saya jelek. Allahuakbar..kuatkan saya untuk menceritakan ini semua.
Jebol nya semakin melebar & membentuk lingkaran seperti lingkaran gelas kecil (gelas air zamzam).
Anak saya mengalami pendarahan dan koma selama 5 hari. Segala obat di masukkan termasuk transfusi darah hampir tiap hari. Sampai menghabiskan pendonor kurang lebih 10 orang.

Alhamdulilah hari ke 28, dia bangun dari koma. Dokter bilang anak ibu kuat, sebuah keajaiban dari Allah.
Tapi paginya, tanggal 28 september 2010, Ridwan kembali kritis & akhirnya meninggal dunia pada pukul 6 pagi. Kedua kalinya saya kehilangan buah hati tanpa sempat menyusuinya lebih lama.

Sebelum hamil ke 3 saya tes TORCH di HI LAB. Alhamdulilah dokter bilang IgM Negatif semua & IgG ada yang positif tapi hamil lagi tidak apa-apa.
Saya pun hamil lagi dan setiap periksa, dokter selalu bilang bagus. Hanya yg terakhir waktu UK 42 minggu, dokter memutuskan saya harus menjalani persalinan secara sesar.

Tgl 31 Desember 2011 alhamdulilah anak ketiga kami lahir. Kami beri nama MUHAMMAD NAUFAL ARZAQY, dengan BB 3,2kg dan PB 50cm.
Umur setengah bulan nafas sesak lalu saya bawa ke Dsa dan menjalani perawatan selama 5 hari dengan biaya 4juta.
1minggu kemudian saya telfon klinik untuk menanyakan vaksinasi BCG. Perawat disana menyampaikan bahwa anak saya HARUS disuntikan vaksin pada umur 1bln.

Saya pun ketakutan terlambat & kami memutuskan untuk vaksinasi di PKU. Umur 2 bln mendapatkan vaksinasi DPT/POLIO 1 di klinik. Namun pasca vaksinasi daerah bekas suntikan menjadi bengkak & panas. Setelah saya berikan thrombogel & paracetamol kondisi membaik.

Umur 2,5 bln yaitu tanggal 10 maret 2012 mendapatkan vaksinasi Dpt2/polio2 dan pada saat itu perawat yang menyuntikkan tidak memeriksa kondisi Arza, melainkan langsung suntik. Sampai rumah kaki bengkak dan tidak panas.
Tgl12 Maret 2012, suami kembali membawa anak saya ke klinik tempat anak saya menerima vaksinasi. Disana dokter malah menyampaikan bahwa anak saya mengalami kebocoran ginjal dan ini bukan tanggungjawab kami.

Pagi Tgl 13 Maret semakin drop bengkak kaki merata. Pagi2 saya langsung shock & suami langsung pinjam mobil saudara utk melarikan Arza ke Dsa.
Arza di gendong ibu saya, suami tidak peduli lampu merah dia terjang. Saya teriak-teriak “kejar nyawa,kejar nyawa. minggir minggir” dari jendela mobil sambil menangis.Ya Allah bunda & panda kalau ingat waktu itu bikin saya ga bisa menahan airmata.

Sampai di Dsa di oxygen & di infus. Hasil pemeriksaan laboratorium memperlihatkan bahwa fungsi ginjal normal, tetapi harus tetap dirujuk ke SARDJITO lagi. Disana tertulis bahwa diagnosa anak saya adalah KIPI & PNEUMONIA.

Tanggal 15 Maret, kondisi Arza membaik & wajahnya sangat cerah. Setiap saya tanya ke dokter, beliau menjawab “sedang kita observasi”.
Tiba-tiba terjadi pendarahan melalui Pup nya. Dilakukan transfusi darah dan dokter mengatakan bahwa infeksi telah menyebar ke saluran cerna Arza.

Coba anda bayangkan.. Nilai Hb orang dewasa saja 12 kan, pada waktu Arza transfusi dalam waktu 3 jam 2 kantong, HB menjadi 20. Astagfiruloh..saya pun marah-marah sama dokter PICU. Kenapa anak saya jadi merah seperti itu dok.

Dokter hanya mengatakan bahwa kekebalan tubuh adik jelek. Saya pun hanya orang kecil yg hanya bisa diam dengan tindakan dokter. Saya tidak bisa apa2, hanya pasrah. Mau menuntut tidak punya uang. Jadi ya pasrah.
Malamnya Arza membaik setelah di masuki obat dari monoglobulin yg harganya 3,7juta 10ml nya, albumin & lain2nya.
Tetapi malam pukul 22.00 wib, kalau tdk salah, Arza kritis & akhirnya meninggal.
Waktu kritis ibu saya bilang “Cucu saya seperti ini krn vaksinasi kan dok”.
Semua dokter hanya diam.

Arza meninggal tanggal 22 maret 2012 dengan tersenyum bunda & panda.

Waktu itu pembayaran rencana memakai Jamkesda karena saya masih punya hutang 10juta di RS yg sama waktu perawatan Ridwan (kakak Arza).
Tetapi alhamdulilah 3hari setelah itu ada perwakilan dari DinKes ke rumah saya. Mereka bilang biaya Arza sebesar 30juta akan ditanggung pemerintah karena arza adalah korban KIPI. Pemerintah akan bertanggungjawab karena saya sudah mengikuti program pemerintah.

Inilah sedikit ringkasan cerita mengenai anak saya.
Saya minta doanya untuk semua agar saya masih dipercaya Allah untuk bisa punya anak lagi yang sehat, panjang umur & bisa menemani kami sampai akhir hayat kami. Aamiin..
Semoga cerita ini bermanfaat.
Maaf jika ada kesalahan penulisannya.
Rudiyanto&Siti Afifah
Jogyakarta, 10mei2012

KOMENTAR SAYA »
KIPI.. Satu nyawa bayi bukanlah mainan.. Jika memang vaksin aman, maka seharusnya tidak ada satupun nyawa yang harus dikorbankan. Cukup pantaskah alasan mengorbankan satu demi lebih banyak anak lagi? Jika bersandar pada teori “herd immunity / kekebalan komunitas”

Bgm jika yg dikorbankan adl anak kita sendiri, maukah kita? Bagaikan memberikan tumbal kepada seorang raksasa demi menyelamatkan penduduk satu desa.

Ayah bunda tentunya masih ingatkan kisah legenda anak2?
Bahkan akhir kisah itupun menyampaikan pesan moral bahwa tidak satupun nyawa manusia pantas utk menjadi tumbal demi keselamatan sebuah kelompok. Nah selamat berpikir dan berdoa..

Faktanya di lapangan kasus KIPI itu banyak sekali 🙂 Namun fakta di lapangan adl tidak semua kasus KIPI diakui sbg KIPI, hanya sekedar dinyatakan kebetulan atau bahasa kerennya “coincedence yang menurut seorang dokter anak hanyalah 0,9% atau ada penyakit ikutan (silent disease).

Yang anehnya, bukannya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti otopsi, untuk memastikan bahwa ini bukan KIPI – tp mereka tetap bersikukuh bahwa ini kebetulan. Korban KIPI paling banyak muncul di daerah perifer atau pinggiran, bukan kota besar.
Sayang tenaga kesehatan terlalu sombong untuk mengakui bahwa vaksin memiliki resiko. Minimal mengakui bahwa vaksin tidak 100% aman dan tidak 100% melindungi. Mereka tetap saja berkoar-koar vaksin aman, aman, dan aman.
Apakah menunggu anak kita jd korban untuk sadar bahwa vaksin terlalu beresiko?

Belum pernah dilakukan penelitian yang nyata dimana membandingkan kesehatan anak yang tanpa vaksin dan berasal dari orangtua yang tanpa vaksin dengan kesehatan anak dengan vaksin dan berasal dari orangtua dengan vaksin.

Pengalaman saya di lapangan, sebagai awal memutuskan untuk menolak vaksinasi adalah faktanya anak-anak tanpa vaksin lebih sehat daripada anak dengan vaksin. Dalam 1 tahun mengalami 10x common cold/flu/demam adalah menunjukkan adanya masalah dalam sistem imunitas anak.
Setelah membaca kisah bunda Afi diatas, saya jadi prihatin dengan kalimat ini »
“@dr_p:Knp lumpuh krn polio,radang otak krn tbc,leher dilobangi krn difteri ga ditakuti,tp KIPI yg jarang n ringan malah lbh ditakuti?”
Hmm.. Iya sih, bayi yang meninggal adalah kasus ringan karena orangtua tidak perlu sibuk melayani seumur hidup anaknya yang lumpuh total pasca vaksinasi.
Semakin prihatin dengan pendapat dr dokter anak inisial, F »
Vaksin tanpa KIPI tuh gimana caranya sih? Minum jamu aja bikin banyak kencing kok. Saya aja minum wedang jahe sendawa melulu. 100% kebal? Superman aja ada titik lemahnya kok.

Well doc, sebagai informasi terapi herbal memang memberikan reaksi kencing lebih banyak. Semua herbalis paham akan hal tersebut. Miris sekali jika membandingkan vaksin dengan weddang jahe (???). Superman hanya kisah fiktif alias khayalan, sedangkan KIPI adalah kisah nyata. Ini bayi loohhh.. Bukan batuu yaahh..

So, jadilah orangtua yang kritis.. Pelajari dengan baik dan berdo’a.

sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/05/11/kejadian-ikutan-pasca-imunisasi-kipi-relakah-anak-kita-menjadi-tumbal/

Baca Juga:

Daging Tumbuh Pada Gigi

Tips Menyembuhkan Diare Secara Alami

Tips Aman Mengkonsumsi Gorengan

ASI sangat penting bagi si ibu dan juga si bayi

Bismillah..
artikel dibawah ini saya dapat dari http://health.kompas.com/read/2011/03/21/0620349/UTAMI.dan.Keajaiban.ASI..sangat mengharukan membaca artikel ini dan kita tau bahwa ASI sangat penting bagi kesehatan bayi..tapi penting juga untuk kesehatan si ibu…monggo dibaca artikelnya..mudah2an membawa manfaat bagi kita semua..

Ssetiap tahun di Indonesia lahir sekitar lima juta bayi. Seandainya mereka semua memperoleh air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan, sekitar Rp 18 triliun dapat dihemat dan digunakan untuk ongkos pendidikan.

Bayi yang kemerahan itu baru saja dipotong ari-arinya. Tangisan pertamanya yang melengking langsung berhenti ketika ia ditelungkupkan di dada ibunya. Makhluk kecil itu merambat perlahan. Kakinya melengkung seperti sedang menanjak. Sejenak gerakannya terhenti, dan matanya terbuka. Secara refleks, ia menatap mata sang ibu. Mulutnya pun terbuka. Ia menciumi dan menjilati kulit ibunya. Dan, ia pun merambat menuju ”sumber kehidupan,” puting susu sang ibu….

Ekspresi keharuan sekilas menyeruak dari wajah ayu dokter spesialis anak Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM.

Klik. Ia pun menutup rekaman video yang ada di layar laptopnya dan membuka pembicaraan tentang ”periode emas” dalam kehidupan awal seorang bayi melalui inisiasi menyusu dini (IMD).

”Keajaiban ini telah dipersiapkan oleh Allah SWT. Lihatlah bagaimana bayi bergerak. Kakinya memanjat, tangannya menggapai-gapai, kepalanya dibentur-benturkan pada dada ibu. Semua gerakan ini disengaja. Sangat ajaib bukan? Setiap bayi yang dilahirkan telah diberi kemampuan ini. Jangankan anak manusia, anak harimau saja begitu dilahirkan langsung bergerak mencari susu ibunya,” kata Utami dalam percakapan dengan Kompas di ruang kerjanya di Jakarta Women and Children Clinik (JWCC), Selasa (15/3) pagi.

Beberapa rekaman video serupa dari bayi-bayi yang berbeda kemudian diperlihatkannya. Ada bayi yang memerlukan waktu 21 menit untuk menemukan puting ibunya, ada yang memerlukan waktu 51 menit.

Namun, menurut Utami, bukan soal menemukan puting ibu yang terpenting di sini. Tapi bagaimana kulit ibu dan kulit anak saling bersentuhan membangun ikatan emosi.

Prosesnya sangat sederhana. Segera setelah bayi lahir ia ditengkurapkan di dada ibu sehingga kulit ibu melekat pada kulit bayi, paling sedikit selama satu jam. Ketika kulit bayi menempel pada badan ibunya, kulit ibu akan langsung menyesuaikan suhunya dengan suhu yang dibutuhkan sang bayi.

”Kita harus ingat bahwa ketika dilahirkan bayi akan mengalami trauma, dari kondisi nyaman di dalam kandungan ke kondisi di luar kandungan. Kontak dari kulit ke kulit antara ibu dan bayi akan mengingatkan bayi pada kondisi di dalam kandungan dan mengembalikan rasa nyamannya,” kata Utami.

Tak dinyana, proses sederhana yang hanya memerlukan waktu satu jam itu dampaknya berpengaruh panjang dalam kehidupan awal seorang anak. Hasil penelitian menunjukkan, proses inisiasi menyusu dini dapat menurunkan tingkat angka kematian bayi sampai 22 persen.

”Allah Maha Besar. Ibu-ibu yang memberi kesempatan bayinya menyusu segera setelah lahir, delapan kali lipat lebih besar kemungkinannya untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan,” katanya.

Jika bayi yang baru dilahirkan dimandikan, dibersihkan dulu, kemudian ditimbang, terus dicap, dan baru dikembalikan pada ibunya, maka sang bayi akan kehilangan periode emas yang sangat menentukan.

”Lihat video ini…. si bayi (yang tidak mengalami proses IMD) mengalami bingung puting. Yang terpenting di sini adalah skin to skin contact. Dan lihat, bayi-bayi yang sudah melewati IMD selama 1-2 jam, ketika mereka dikembalikan pada ibunya, dia bisa menemukan puting ibunya dengan sangat mudah. Bayi-bayi ini dipandu oleh bau tubuh ibunya. Dada ibulah yang disiapkan Tuhan untuk bayi, bukan inkubator. Ini tempat tidur terhebat,” lanjut ibu dari dari dua putra dan nenek dari tiga cucu ini.

Bukan hanya itu, setelah proses IMD, bayi juga tidak boleh dipisahkan dari ibunya untuk 24 jam kemudian. Dengan demikian, ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar selama 24 jam dan tempat tidur bayi harus dalam jangkauan tangan ibu.

”Tidak masalah dengan ibu yang dirawat di kamar yang pasiennya ada tiga atau empat orang. Tempat tidur bayi bisa diletakkan di sisi ranjang ibu. Ini penting untuk memelihara bonding yang telah terjadi antara ibu dan anak lewat IMD. Jika si bayi dipisahkan kembali, ia akan cemas,” katanya.

Pertanyaannya, bagaimana ibu bisa meyakinkan rumah sakit untuk meminta bayinya diletakkan di dadanya segera setelah dilahirkan dan menjalani rawat gabung?

”Menurut saya, kita harus empowering the mother karena anak adalah titipan Allah pada ibunya. Lagi pula mereka kan membayar pada rumah sakitnya. Mereka jelas punya hak. Kalau di Jakarta, sekarang para ibu sudah banyak yang menuntut hak ini pada rumah sakitnya: ”Kalau saya sehat dan bayi saya sehat, apakah saya bisa melakukan IMD selama satu jam di dada ibunya dan 24 jam bayi tidur didekatkan dengan ibunya? Kalau tidak, saya bisa cari rumah sakit lain.” Nah, sekarang sudah banyak ibu yang bisa seperti itu. Tapi, para ibu juga harus punya pengetahuan yang benar tentang IMD. IMD itu at least satu jam, bahkan sekarang diusulkan bayi baru diangkat dari dada ibunya setelah dua jam,” kata Utami yang juga cucu dari sastrawan Angkatan Balai Pustaka, Marah Roesli.

ASI eksklusif

Tahun 2010 Utami memperoleh gelar ”Pendekar Anak” dari Unicef berkat kegigihannya mengampanyekan pentingnya pemberian ASI eksklusif.

”Air susu ibu adalah satu-satunya makanan bayi, tidak ada yang lain. Semua yang saya bicarakan ini ditunjang oleh berbagai penelitian ilmiah,” tegasnya. Utami juga mengutip ayat Al Quran

”Silakan Anda baca surat Al Baqarah ayat 233, . Bukankah itu semua memberi isyarat pada kita betapa pentingnya air susu ibu?” ujarnya.

Utami mengaitkan pemberian ASI eksklusif dengan pembangunan generasi masa depan yang lebih bermutu. Pemberian ASI eksklusif tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik dan mental ibu beserta bayinya, tetapi juga kesehatan keuangan keluarga. Dalam matematika yang sederhana, seandainya semua ibu yang melahirkan memberikan ASI eksklusif selama enam bulan, ada nilai rupiah sekitar 18 triliun yang dihemat.

Hitungannya, bila dalam setahun ada lima juta bayi yang dilahirkan, setiap bayi membutuhkan 55 kaleng susu per enam bulan, dengan harga per kaleng sekitar Rp 65.500, maka perkalian itu akan menghasilkan angka Rp 18,012 triliun.

”Apakah tidak lebih baik bila biaya itu dialihkan untuk pendidikan anak? Kalau saya bisa menolong keluarga yang berpenghasilan sebulan hanya Rp 500.000, maka kita akan bisa menolong the whole family. Untuk enam bulan pertama kehidupan, ASI cukup sebagai makanan tunggal,” katanya.

Saat ini, tingkat kematian bayi dan anak balita di Indonesia masih sangat tinggi, sekitar 44 anak balita per 1.000 orang sehingga jika dalam setahun ada lima juta bayi yang lahir, berarti dalam sehari ada 550 anak balita yang meninggal dunia!

”Bayangkan, itu sama dengan pesawat jumbo jet yang jatuh setiap hari dan isinya semua anak balita! Artinya, setiap 2,5 menit satu anak balita di Indonesia meninggal. Sudah berapa banyak anak balita yang meninggal sewaktu kita mengobrol di sini? Please, mereka meminta tolong kepada kita. Mereka ingin hidup,” kata Utami.

Untuk menolong para anak balita itu, caranya tidak perlu muluk-muluk. Cukup dengan pemberian ASI eksklusif enam bulan, kemudian 18 bulan selanjutnya ASI yang dicampur dengan makanan rumah—tidak perlu makanan kaleng. Itu semua, kata Utami, bisa menekan kematian bayi dan anak balita sampai 13 persen.

”Dari semua opsi intervensi, intervensi paling efektif untuk mengurangi kematian bayi adalah air susu ibu. Kenapa harus dua tahun karena antara 0 sampai 2 tahun adalah periode pertumbuhan otak yang pesat sekali,” kata Utami.

Ia kemudian menunjukkan hasil penelitian terbaru (Journal of Pediatrics, Oktober 2009), di mana ibu-ibu yang melahirkan diikuti terus perkembangannya selama 14 tahun, sampai si bayi remaja. Hasilnya adalah semakin lama si bayi memperoleh ASI, semakin kurang gangguan mental pada anak dan remaja. Gangguan yang termasuk di sini di antaranya depresi, psikosomatik, gangguan bersosialisasi, kenakalan remaja, dan tingkah laku agresif.

”Bukankah perilaku-perilaku ini yang sekarang kita prihatinkan terjadi di negara kita? Orang menjadi anarkis, koruptif, membunuh orang seenaknya? Ayo ibu-ibu, pikirkan masa depan negara ini,” katanya.

Lantas, bagaimana bila ibu yang melahirkan tidak keluar air susunya?

”Dari 1.000 ibu yang mengaku air susunya kurang, sebetulnya hanya 1 sampai 2 persen yang air susunya benar-benar kurang. Sisanya yang 99 persen hanya kurang informasi mengenai cara menyusui yang benar atau belum bertemu dengan orang-orang yang bisa membantu mereka untuk memberi pengarahan yang benar,” kata Utami.

Penyesalan dan kanker

Keterlibatan Utami dengan persoalan ASI dimulai 25 tahun lalu ketika ia mengikuti sebuah kongres di Australia. Di sana tersedia beragam kursus, tetapi tempat yang kosong baginya adalah di bagian ASI. Dari situlah kecintaannya dan kegigihannya untuk mengampanyekan ASI eksklusif bermula. Apalagi, rumah sakit tempatnya bekerja, RS StCarolus, terus memberinya kesempatan untuk menambah pengetahuan soal ASI.

Apakah Anda dulu memberikan ASI eksklusif kepada dua putra Anda?

Tidak. Padahal, ibu saya adalah dokter anak (Edyana Roesli) yang telah bekerja di rumah sakit—tempat saya melahirkan— selama 30 tahun. Tetapi, sewaktu anak saya yang kedua lahir pada tahun 1974, pengetahuan tentang ASI eksklusif belum ada. Saat itu biasa saja bayi dipisahkan dari ibunya, diberi langsung susu formula karena ASI belum keluar. Itu sebabnya saya sekarang lebih keras mengampanyekan itu karena saya tidak memberikan ASI dengan benar kepada anak-anak saya sehingga saya malu sekali sama Tuhan. Alhamdulillah, Tuhan memberikan saya anak yang baik dan soleh.

Bukankah itu bisa diartikan tidak memberikan ASI dengan benar, tetapi anaknya tetap baik fisik dan mentalnya?

Mmm…… begini ya. Baiklah, saya tidak keberatan diungkap. Saya menderita kanker payudara karena saya tidak menyusui dengan benar. Itu terjadi 21 tahun lalu dan saya sudah melewati penyinaran hampir 50 kali. Alhamdulillah, payudara saya tidak diangkat. Allah sudah sangat baik dengan saya, walaupun saya sudah melakukan kesalahan, saya tetap diberi kesempatan hidup yang luar biasa. Oleh karena itu saya ngotot agar ibu-ibu lain tidak mengulangi kesalahan yang saya lakukan.

Please don’t do what I did. Saya telah membuat kesalahan, saya meminta maaf kepada Tuhan dan anak-anak, tetapi kita jangan mengulangi kesalahan. Meskipun demikian, upaya saya kan terbatas dari kamar ini saja. Anda-Anda semua yang harus membantu kampanye ini,” ujarnya. (WKM)

Penulis Myrna Ratna dan Yulia Sapthiani
Sumber :
Kompas Cetak

Ukur Kepala Bayi Setiap Bulan

Hal ini memamng cukup diremehkan oleh para orang tua, karena ini memang tampaknya sepele. Dimana-mana para orangtua hanya mengukur berat badan bayi dan tinggi bayi tetapi tidak mengukur kepala bayi, berikut saya dapatkan artikel tentang pentingnya mengukur kepala yang saya kutip dari Jawa Pos.

 

 

Wajib Ukur Kepala Bayi Setiap Bulan
KEPALA anak sering luput dari perhatian orang tua. Padahal, penambahan lingkar kepala si kecil tak boleh berlebihan.

Memang, perkembangan kepala bayi baru lahir hingga berumur dua tahun tergolong pesat. Namun, tetap ada batasnya. ”Sebaiknya, perkembangan kepala bayi saat usia kurang dari dua tahun tak lebih dari 1,5 cm per bulan,” ujar Prof dr Darto Saharso SpA(K), pakar persarafan anak dari RSU dr Soetomo Surabaya. Bila perkembangan kepala melebihi angka tersebut, kemungkinan ada proses lain di otak. Salah satunya, pertumbuhan tumor.

Tanda yang muncul dibedakan berdasar usia anak. Bila usia si kecil kurang dari dua tahun, ubun-ubun bayi masih terbuka. Tampak penonjolan di kepala si kecil. Anak jadi sering rewel dan jika menangis keras sekali. ”Anak juga sering muntah-muntah,” tutur lulusan FK Unair itu.

Sedangkan anak lebih dari dua tahun, ubun-ubunnya sudah menutup. Anak akan sering sakit kepala hebat. ”Pagi anak akan sering muntah,” imbuh Darto. Sebab, ketika malam terjadi kekurangan oksigen di otak. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tubuh semakin banyak mengalirkan darah ke otak. Akibatnya, terjadi tekanan di otak. ”Tekanan pun dobel, dari tumor dan aliran darah,” jelasnya. Namun, mungkin juga kondisi itu terjadi di saat siang ataupun malam.

Bukan hanya itu. Lokasi tumor otak akan memengaruhi kemampuan anak. Jika letaknya di otak bagian depan, anak akan mengalami gangguan kognitif. Jika letaknya di belakang bagian bawah kepala, akan memengaruhi keseimbangan. Kalau lokasi tumor di samping, tingkah laku anak terpengaruh. ”Si mungil jadi agresif atau sebaliknya menjadi sangat pendiam,” terang Darto.

Penanganannya, jika tumor tidak menyebar dan mudah dijangkau, akan dilakukan operasi pengambilan tumor. Tetapi, jika tumor menyebar, banyak, dan sulit dijangkau, tidak akan dilakukan operasi. Langkah ini justru berisiko mengancam keselamatan anak. ”Pada kondisi begini, langkah terapinya radiasi atau kemoterapi,” tutur Darto. (war/nda)
Source: Jawa Pos

Akibat kegemukan pada ibu hamil

Hamil Gemuk, Bayi Besar

Kehamilan memang bisa membuat berat badan sang ibu naik. Tapi, sebaiknya jangan berlebihan. Sebab, menurut studi di Amerika Serikat (AS), ibu yang berat badan naik hingga 18 kilogram lebih selama hamil ditemukan dua kali lebih berisiko melahirkan bayi kegemukan pula.

Dalam studi ini, peneliti mengamati 40 ribu ibu hamil hingga melahirkan. Hasilnya, satu di antara lima ibu yang mengalami kelebihan berat saat hamil melahirkan bayi dengan bobot 4 kg atau lebih. Bahkan, bayi ini juga berisko mengalami obesitas.

“Karena itu, wanita sebaiknya menghindari pertambahan berat badan berlebihan saat hamil,” kata dr Teresa Hillier dari Kaiser Permanente Center for Health Research di Portland, Oregon.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, bayi dengan bobot lahir lebih dari 4 kg tergolong terlalu berat. Pemerintah AS merekomendasikan kenaikan bobot maksimal 18 kg untuk ibu hamil. Bayi besar meningkatkan resiko saat persalinan, baik bagi ibu maupun janin. Pada ibu, bayi besar berisiko menyebabkan sobeknya vagina dan perdarahaan. Sedangkan, pada bayi, ada risiko bahu tergencet hingga tulang tapah. (Reuters/dio/soe)
Source: From Jawa Pos